Kamis, 01 Januari 2009

Bangsa Indonesia di tengah Nasionalisme dan Interasionalisme

Di penghujung tahun ini kita dikejutkan oleh berita serangan tentara Israel yang menewaskan ratusan tentara Hamas yang oleh beberapa media dilansir sebagai rakyat sipil untuk menarik simpati massa. Dan berhasil. Dan berhasil. Dukungan terbesar itu didapat dari Indonesia. Setelah kejadian itu Presiden SBY menulis surat keprihatina kepada Sekjen PBB Ban Kin Moon dan mendesak Dewan Keamanan PBB untuk bersidang mengeluarkan resolusi menghentikan agresi Israel.


Wabah dukungan terhadap Palestina juga menghinggapi ribuan siswa di Lamongan yang mengadakan aksi mengecam tindakan Israel. Belum lagi ditambah dengan aksi-aksi lainnya yang merebak di negeri kita dalam rangka mengutuk Israel dan mendukung Palestina.
Harian Kompas menerbitkan opini berjudul Siapa Peduli Palestina. Ya, siapa peduli Palestina, tapi Siapa Peduli Indonesia kalau bangsanya lebih peduli pada nasib bangsa lain daripada nasib bangsa sendiri?
Kasus lumpur Lapindo, itu contohnya. Berapa banyak orang yang peduli terhadap korban Lumpur Lapindo? Proyek Lapindo itu memiskinkan dan menelantarkan lebih kurang warga 4 desa yang ada Porong Sidoarjo. Mereka sekarang bermukim di tenda-tenda keprihatinan selama dua tahun. Hidup seadanya. Mengenaskan.
Mengapa ketika sesuatu terjadi atas bangsa lain, kita bisa begitu sigapnya merespon dengan menghimpun aksi solidaritas dan mengirimkan bala bantuan seperti kasus Palestina ini? Mengapa untuk saudara-saudara kita yang nasibnya terkatung-katung selama 2 tahun, hanya segelintir orang yang peduli? Bahkan pemerintah kita begitu tegas terhadap Israel tetapi tidak terhadap pihak Lapindo, yang di belakangnya ada nama Aburizal Bakrie sebagai pemilik.
Salahkah kita peduli pada bangsa lain yang mengalami kesulitan? Tentu tidak. Tetapi sebaiknya kita lebih proporsional dalam menyikapi segala sesuatu. Bangsa ini perlu memiliki Nasionalisme yang tinggi bukan internasionalisme yang tinggi, sebab kalau kita lebih peduli pada bangsa lain, bagaimana nasih bangsa ini ke depan? Selamat menyongsong tahun 2009 dengan penuh harapan dan doa agar di hari-hari mendatang bangsa ini jauh lebih baik dalam segala hal.
Diposkan oleh: terangdunia.com
Lebih Lanjut.... »»

Penghabisan tahun 2008

Bagi Kami suasana malam tahun baru selalu diisi dengan kegiatan yg mungkin monoton tp itu sudah menjadi tanggung jawab kami selaku karyawan/ti RS Gading maupun Rs Pluit.....
Dan saat inipun kegiatan itu kami lakukan. malam ini kami berkumpul bekerja dan tertawa walau mungkin dari kami ada yg merasa sepertinya kami tersisikan dari teman, keluarga.... tapi bukan itu yang kami alami disinipun kami bisa tertawa dan mencoba melupakan perasaan itu walau dalam pekerjaan akhir tahun untuk menuju tahun yg baru.seru memang....Disisi sebelah barat ada hal yang ingin saya ungkapkan dlm tulisan ini biasanya di keluarga batak khususnya dan di kaum umat Kristiani umumnya dipenghujung tahun selalu diadakan acara yg bisa disebut sungkeman kepada orangtua... nah seperti ditahun sebelumnya saya tidak pernah ikut acara tersebut selama sya bekerja di Rs Gading dan Rs pluit. ada yang hilang dan kosong dihati ini kembali lagi saya harus mengikuti peraturan yang ada yaitu bekerja dimalam tahun baru dan pada tahun ini saya berikut teman2 mencoba hal yang baru dimana kami tidak melakukan ritual tersebut dan hanya penugasan pada beberapa staff ...sepertinya ada yang muncul dalam hati saya. perasaan gembira, senang gak taulah bagaimana cara ngungkapinnya.... inilah yg saya tunggu2 selama 8x menghadapai akhir tahun saya dapat sungkem dengan orang tua saya, berangkat ke Gereja sama2 pokokny senang banget.mudah2han tahun depan dan seterusnya bisa begini juga ya.
Lebih Lanjut.... »»

Happy New Year 2009

Detik2 terakhir tahun 2008 terasa berat untuk ditinggalkan, kembali kita mencoba tegakkan kepala untuk melihat dan menjalani hidup diawal tahun 2009 ini tanpa menoleh kebelakang... dan jadikan hal yg dibelakan itu menjadi pelajaran dan cambuk untuk menjalani tahun ini...... Happy New Year 2008 Lebih Lanjut.... »»